Apa Itu VAERS (KIPI)? Apakah ada di Indonesia?

KIPI - KEJADIAN ikutan paska imunisasi

 

 

 

 

Dalam artikel sebelumnya mengenai efek samping vaksin kanker serviks Gardasil dan Cervarix saya sempat menyinggung tentang VAERS. Beberapa pasien saya bertanya pada saya, apa sih VAERS itu? Apakah VAERS ada di Indonesia? Baca selengkapnya di artikel berikut.

VAERS atau disebut sebagai Vaccine Adverse Event Reporting System (Sistem Pelaporan Kejadian Ikutan Paska Imunisasi) merupakan suatu program yang dikembangkan bersama-sama antara Badan Keamanan Imunisasi CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dengan FDA. VAERS mendapatkan informasi dari para individu (pasien, orang tua, keluarga, dokter, petugas medis, dan produsen vaksin), dari seluruh negara bagian Amerika Serikat yang memilih untuk melaporkan kejadian ikutan untuk dipelajari lebih lanjut.

Semua laporan akan ditelaah oleh petugas medis, perawat, staf terlatih di CDC dan FDA. VAERS menerima laporan berbagai kejadian yang terjadi setelah vaksinasi dan dapat mendeteksi apakah suatu kejadian memiliki suatu pola yang mungkin disebabkan oleh efek samping vaksinasi.

Sebuah kejadian ikutan merupakan masalah medis yang dilaporkan oleh seseorang setelah mendapatkan vaksinasi atau suatu pengobatan tertentu. Kejadian ikutan ini mungkin saja disebabkan oleh vaksin atau obat tersebut, tapi mungkin juga tidak. Beberapa kejadian tersebut dapat terjadi secara koinsiden (kebetulan) pada suatu waktu setelah vaksinasi.

Hal ini bisa dianalogikan sebagai berikut. Setelah makan siang dengan hidangan lezat di sebuah restoran favorit kita bersama keluarga, malamnya kita mengalami demam. Bisa saja kita langsung berpikir bahwa makanan di restoran tersebut tercemar sehingga kita terkena penyakit tifoid (tipes). Tapi apakah kita bisa memastikan bahwa demam yang kita alami disebabkan oleh makanan di restoran tersebut? Lebih jauh lagi… apakah demam tersebut pasti demam tifoid? Bagaimana dengan anggota keluarga yang lain? Apakah mereka juga mengalami hal yang sama? Tentu untuk membuktikan adanya hubungan kausalitas (sebab-akibat) antara makanan di restoran dengan demam yang kita alami, perlu dipelajari lebih lanjut, dan mungkin kita juga perlu melakukan pemeriksaan laboratorium untuk membuktikan penyakit kita. Betul?

Nah! Hal yang serupa juga harus kita terapkan dalam menyikapi kejadian ikutan paska vaksinasi. Kita perlu mempelajari lebih lanjut mengenai hubungan kausalitas (sebab-akibat) dari suatu kejadian dengan vaksinasi yang kita terima. Apakah ada hubungannya? Ada pola yang sama terjadi pada orang lain yang mendapatkan vaksin yang sama? Itu semua baru dapat dipelajari bila kita mau melaporkan kejadian ikutan paska vaksinasi (KIPI = Kejadian Ikutan Paska Imunisasi). Oleh sebab itu, siapapun yang berpikir bahwa mereka mendapatkan suatu kejadian setelah mendapatkan vaksinasi tertentu, diharapkan dapat melaporkan apa yang Anda alami, sehingga dapat dipelajari.

Bagaimana caranya melaporkan KIPI?

Kejadian ikutan paska imunisasi (KIPI) perlu Anda laporkan agar dapat dipelajari dan dipublikasi, sehingga kejadian-kejadian lain dapat diantisipasi. Pelaporan KIPI dilakukan kepada puskesmas, terutama Kepala Puskesmas setempat. Kepala Puskesmaslah yang akan melaporkan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota tersebut.

Yang seperti apa yang harus dilaporkan?

KIPI yang terjadi terjadi dalam waktu 48 jam setelah imunisasi (satu gejala atau lebih) yang patut diwaspadai dan harus dilaporkan adalah:

  • Anafilaksis
  • Syok
  • Episod hipotonik hiporesponsif

KIPI yang terjadi dalam waktu 30 hari setelah imunisasi (satu gejala atau lebih):

  • Ensefalopati
  • Kejang
  • Meningitis aseptik
  • Trombositopenia
  • Lumpuh layu (acute flaccid paralysis)
  • Meninggal
  • Penyebab lain yang berat termasuk bila anak perlu perawatan

Bila Anda menemukan gejala-gejala tersebut, silakan segera laporkan pada Puskesmas setempat, atau ke Klinik Imunisasi Indonesia.

Referensi:

  1. Hadinegoro SRS. Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi . Sari Pediatri, Vol. 2, No. 1, Juni 2000: 2 – 10
  2. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1626/MENKES/SK/XII/2005 tentang Pedoman Pemantauan dan Penanggulangan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI)

 

Kontributor:

 

dr Kristoforus HD

Seorang dokter penyakit dalam dan sekaligus ahli vaksinologi dan terapi alternatif dengan TCM. Direktur sekaligus pendiri dari In Harmony Clinic – sebuah klinik Medis, Alternatif, dan Preventif, yang berfokus pada Pencegahan melalui vaksinasi dan penggunaan suplemen-suplemen herbal yang bersertifikat dan telah teruji. Untuk info, Klik www.Inharmonyclinic.com atau hubungi 021- 4220 214 / 424 8790 / 0816973693. Ingin berkonsultasi? Silakan Add PIN: 7DE2B8BB

Related articles:

1. Vaksinasi Influenza Karyawan: Bukti Peduli Soewarna Business Park & Cengkareng Golf  Club

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>