Mau vaksinasi MMR & Varicella, haruskah menunda kehamilan?

vaksinasi MMR harus menunda kehamilan

“Dok, saya hendak menikah sebentar lagi, karenanya tadi saya ke klinik X untuk vaksinasi MMR, tapi koq malah dibilangin: kalau mau vaksin MMR tunda hamilnya dulu bu, selama 3 bulan… kalau perlu suntik KB dulu aja! Apa bener tuh dok?”

Baru saja seorang pasien menanyakan hal ini pada saya. Hal ini membuatnya khawatir karena beliau ingin mendapatkan vaksinasi tersebut, padahal beliau sudah hendak menikah 2 minggu yang akan datang. Tentu saja beliau shock ketika seorang dokter di klinik besar di Jakarta tersebut menyatakan bahwa beliau harus suntik KB dahulu untuk menunda kehamilan 3 bulan, hanya demi mendapatkan vaksin MMR. Sebenarnya, perlu nggak sih, kehamilan ini kita tunda untuk mendapatkan vaksinasi MMR ataupun Varicella?

Vaksinasi MMR (Measles, Mumps, and Rubella) dan cacar air (Varicella), adalah dua dari beberapa vaksin hidup (live attenuated), yang artinya vaksin yang mengandung virus/bakteri yang dilemahkan. Virus/bakteri tersebut masih hidup, namun tidak memiliki kemampuan untuk menginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit. Vaksin hidup ini memiliki keuntungan dan kerugian. Salah satu keuntungannya adalah kadar antibody yang tinggi yang dihasilkan, karena vaksinasi ini sangat menyerupai infeksi alamiah. Alhasil, vaksinasi dengan vaksin hidup kebanyakan bisa bertahan lama dan bahkan hanya sekali seumur hidup. Namun, vaksinasi dengan vaksin hidup juga memiliki kendala, dimana vaksin ini tidak boleh diberikan bagi orang dengan daya tahan tubuh yang lemah (misalnya penderita HIV, orang yang sedang mengalami sakit berat, dll) dan ibu hamil. Dikhawatirkan virus dari vaksin dapat menembus plasenta, masuk ke tubuh janin dan menyebabkan berbagai kelainan bawaan (cacat kongenital), walaupun sebenarnya kekhawatiran ini sifatnya masih teoritis.

Namun demikian, karena besarnya efek yang diakibatkan oleh infeksi rubella dan varicella terhadap janin (seperti kelainan saraf bawaan dan cacar sejak lahir), maka perlindungan terhadap ibu pada usia subur terhadap rubella dan varicella ini menjadi sangat penting. Pemberian vaksin MMR dan varicella diperlukan bagi para calon ibu, terutama mereka yang berisiko terpapar penyakit tersebut. Karena itu, kedua vaksin tersebut direkomendasikan dalam Vaksinasi Pranikah (baca artikel kami sebelumnya Pre Wedding Shot (Immunization) & Premarital Check Up).

Kekhawatiran akan adanya infeksi virus dari vaksin MMR dan Varicella menyebabkan beberapa dokter menjadi sangat defensif, dan bahkan secara berlebihan, melarang ibu untuk hamil dalam jangka waktu 3 bulan ke depan setelah vaksinasi. Padahal CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan tim ACIP (Advisory Committee on Immunization Practices) sebenarnya hanya menyarankan untuk menghindari kehamilan dalam 28 hari ke depan (4 minggu). Namun demikian, pemeriksaan kehamilan rutin sebelum vaksinasi tidak diperlukan.

Bagaimana bila seorang wanita hamil secara tidak disengaja mendapatkan vaksinasi atau seseorang yang baru divaksinasi dengan MMR/varicella menjadi hamil dalam 4 minggu setelah vaksinasi varicella? Tidak ada tindakan apapun yang perlu dilakukan, dan bahkan tidak ada alasan untuk menghentikan kehamilan! Berikan penjelasan saja kepadanya mengenai dasar-dasar teoritis apa sebenarnya risiko virus dari vaksin MMR & Varicella terhadap janinnya.

Sebuah database dari para wanita yang berisiko dan terpaksa mendapatkan vaksinasi Rubella dalam waktu 3 bulan sebelum hingga 3 bulan sesudah konsepsi (permulaan kehamilan), telah dikumpulkan oleh CDC dalam sebuah register bernama “Vaccine in Pregnancy (VIP) Registry”. Database ini dikumpulkan dari tahun 1971 hingga 1989. Sebanyak 226 wanita mendapatkan vaksin Rubella dan melanjutkan kehamilan hingga melahirkan, dan ternyata tidak satupun yang lahir dengan cacat ataupun kelainan kongenital, walaupun 2 diantaranya terekspos dengan virus rubella dari vaksin. Karena itu, CDC mengatakan bahwa risiko bayi terekspos virus Rubella pada pemberian vaksinasi saat hamil diprediksi sekitar 0 – 1,2%. Dan risiko kelainan kongenital akibat rubella (CRS/ Congenital Rubella Syndrome) pada mereka yang divaksinasi adalah 0%. Hal ini tentu saja jauh lebih baik dibandingkan mereka yang mendapatkan infeksi Rubella alamiah pada saat kehamilan, yang menyebabkan risiko sebesar 20%!

Oleh karena itu, para ibu yang hendak menikah ataupun menginginkan kehamilan, sangat disarankan untuk mendapatkan vaksinasi MMR dan Varicella. Penundaan kehamilan selama 1 bulan dianjurkan untuk mencegah berbagai kemungkinan teoritis yang muncul akibat vaksinasi, walaupun saat ini telah terbukti  bahwa risiko kelainan bawaan akibat vaksinasi belum pernah terjadi.

 

Kontributor:

 

dr Kristoforus HD

Seorang dokter penyakit dalam dan sekaligus ahli vaksinologi dan terapi alternatif dengan TCM. Direktur sekaligus pendiri dari In Harmony Clinic – sebuah klinik Medis, Alternatif, dan Preventif, yang berfokus pada Pencegahan melalui vaksinasi dan penggunaan suplemen-suplemen herbal yang bersertifikat dan telah teruji. Untuk info, Klik www.Inharmonyclinic.com atau hubungi 021- 4220 214 / 424 8790 / 0816973693. Ingin berkonsultasi? Silakan Add PIN: 7D567F5F

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>